Senin, 25 April 2016
Ceramah KH Abdullah Gymnastiar : “Lima Cara Sederhana Menghadapi Cobaan Hidup”
Assalaamualaikum Warrohmatulloohi Wabarokaatuh...
Berikut adalah Kutipan Ceramah KH Abdullah Gymnastiar, atau biasa disapa dengan Aa Gym, yg diadakan di masjid Al-Hikmah, Den Haag, mengenai lima cara sederhana menghadapi cobaan hidup:
1.Siap menerima suatu cobaan
Kita terkadang lupa bahwa pangkal dari masalah kita bukan masalah itu sendiri, tetapi bagaimana menyikapi/menerima suatu cobaan. Seperti menghadapi suatu ujian. Apabila kita mempersiapkan diri kita sebaik-baiknya, maka umumnya kita akan mendapatkan hasil yang baik pula. Tetapi kita juga harus ingat bahwa tidak semua yang kita inginkan akan terwujud. Oleh karena itu, kita harus siap pula dengan kegagalan dan jangan hanya siap dengan kesuksesan. Semakin siap kita untuk menghadapi suatu kegagalan, semakin ringan masalah tersebut akan dirasakan oleh kita. Mulailah dengan niat yang baik, ikhtiar semampu kita, tapi jangan terkunci oleh keinginan dan nafsu kita, serahkan semuanya kepada Allah SWT.
2.Kalau sudah terjadi, kuncinya adalah ridho/diterima
Seringkali saat mengalami suatu masalah/musibah, kita cenderung berpikir “seandainya saya pergi lebih cepat”, “seandainya kita belajar lebih giat”, dsb. Hal itu menandakan bahwa kita adalah orang yang tidak bisa menerima kenyataan. Hal ini dapat menimbulkan perasaan tidak tenang dalam menghadapi berbagai cobaan serta masalah hidup. Apabila kita mencoba berpikir lebih dalam, banyak orang menderita bukan karena kenyataan yang terjadi tetapi karena tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Oleh karena itu, apabila kita sudah siap untuk menerima berbagai cobaan dari awal dan bukan di akhir, InsyaAllah kita akan menjadi lebih tenang dan lebih siap dalam menghadapi berbagai ujian dalam hidup kita.
3.Jangan mempersulit diri, “mudahkan urusanmu”
Apabila kita pikirkan baik-baik. Setiap kita mendapatkan masalah, pada umumnya kita menderita karena pikiran kita sendiri. Banyak orang menderita karena memikirkan yang belum ada dan bukan mensyukuri yang sudah ada. Orang tersebut bukan kurang rizki tetapi kurang iman. Kita jangan takut tidak akan mempunyai rizki yang cukup, tapi takut tidak bisa mensyukuri nikmat yang sudah kita miliki! Kita harus ingat bahwa kita dihormati orang lain bukan karena kita mulia, tapi karena Allah SWT menutupi dosa, aib, dan kesalahan kita!
Aa gym pun mengatakan terdapat beberapa babak dalam hidupnya: babak ngetop, babak belur, hingga babak baru. Beliau juga berkata bahwa pujian jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan dicaci maki. Karena pujian mendekatkan kita ke kemunafikan. Namun, dari hal tersebut beliau menyadari bahwa memang terkadang inilah ujian yang diberikan oleh Allah SWT terhadap hambaNya untuk menaikkan derajatnya. Jangan membebani diri kita dengan berbagai masalah yang sudah ada.
4.Evaluasi diri (bertaubat)
QS An-Nisa ayat 79 :
“Apa saja ni’mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad Saw) menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.”
Terkadang kita lalai dalam mengevaluasi diri kita setelah tertimpa masalah/musibah. Kita cenderung mengedepankan emosi serta mencari-cari kesalahan orang lain. Kita harus ingat bahwa sebagai manusia, kita tidak pernah luput dari dosa. Cara untuk menghilangkan/megurangi dosa tersebut tentu dengan bertaubat.
Dalam menghadapi berbagai masalah pun kita harus ingat bahwa tidak ada satupun masalah yang tidak ada solusinya. Tidak ada guru yang memberikan soal tanpa ada kunci jawaban. Tidak ada seseorang membuat lubang kunci tanpa pasangan kuncinya. Salah satu jalan utama untuk mendapatkan jawaban dari masalah kita adalah dengan bertaubat! Pada intinya adalah kita harus instropeksi terhadap kesalahan diri kita sendiri dan jangan melihat/mencari kesalahan orang lain. Seperti kisah Nabi Adam a.s. yang memakan buah terlarang dan akhirnya dikirim ke dunia sebagai hukuman. Beliau menjadi mulia karena bertaubat dan bukan karena menyalahkan iblis yang telah membujuknya. Begitu juga dengan Nabi Yunus a.s. yang dimakan oleh ikan paus karena sempat lalai terhadap umatnya. Beliau pun selamat karena bertaubat.
5.Cukuplah Allah SWT sebagai penolong kita (hanya bersandar kepada Allah SWT)
QS Al Falaq (1-5) :
1. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,
2. Dari kejahatan makhluk-Nya,
3. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,
4. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,
5. Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”
Seringkali sebagai manusia, kita bersandar kepada jabatan, kekayaan, suami, istri, orangtua, saudara/kerabat dengan jabatan tinggi, dsb. Namun satu hal yang tidak kita sadari adalah kita sering bergantung kepada sesuatu yang tidak kekal. Kaya bisa menjadi miskin, kerabat bisa meninggal atau hubungan bisa menjadi renggang dan jabatan seseorang bisa hilang sewaktu-waktu. Begitu semua hal tersebut diambil/hilang kita akan kehilangan tempat bergantung. Namun apabila kita bersandar kepada Allah SWT yang kekal, kita tidak akan kehilangan apa-apa karena kita bersandar kepada yang kekal dan pemilik alam semesta. Hal ini pun tercermin dari cara Nabi Muhammad SAW mengajarkan agama islam. Rasulullah menyebarkan agama islam dengan mengajarkan ilmu tauhid terlebih dahulu, yaitu ilmu mengenal Allah SWT. Baru setelah itu Rasulullah mengajarkan mengenai solat dan ibadah-ibadah lainnya. Dari hal ini kita bisa melihat bahwa yang terpenting adalah mengenal Allah SWT terlebih dahulu.
Akhirul kata, derajat seseorang ditentukan pula oleh masalah yang dialaminya. Semakin tinggi derajat/mulia seseorang semakin berat pula masalah yang akan dihadapinya. Yang menentukan apakah kita akan menjadi lebih mulia atau tidak adalah bagaimana kita menyikapi dan mengevaluasi diri sesudahnya. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada hamba-hambaNya dalam menghadapi&menyikapi berbagai masalah yang kita hadapi, Amin YRA…
Wassalaamualaikum Warrohmatulloohi Wabarokaatuh...
Sumber :
https://ppmrindonesia.wordpress.com/2012/03/19/lima-cara-sederhana-menghadapi-cobaan-hidup/
Minggu, 24 April 2016
Kutipan Ceramah K.H Zaenuddin MZ: Mendapat Hidayah Allah
Assalamu ‘Alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillahi wahdah, sodaqo wa’dah, wa nasoro ‘abdah, wassolatu wassalamu ‘ala man la nabiya b’dah, sayyidina Muhammad ibni abdillah wa ‘ala aalihi wasohbihi waman walah. Ama ba’du.
Saudara-saudara kaum muslimin yang saya cintai... Perjalanan waktu telah mengantarkan kita, memasuki romadhon, kata orang: “Jauh berjalan banyak dilihat” dan pengalaman adalah guru yang paling bijaksana, kalau ibadah romadhon kita berhasil, maka kita yang malam mini-pasti bukan kita sebulan yang lalu. Kita yang malam ini, adalah kita yang telah ditempa, dogojlog, digembleng oleh kawah candra di mukanya romadhon, dan setelah perjalanan panjang, perjuangan mengendalikan diri dan menahan nafsu, kita akan merayakan iedul fitri. Apa yang harus kita laksanakan? Malam ini saya ingin sampaikan ayat 186 surah al-baqarah, dimana Allah menuntun kita. Pertama walitukmilull ‘iddata (hendaknya engkau sempurnakan jumlah bilangan hari puasamu, puasa sebulan penuh – bisa 29 bisa 30 hari, yang bisa ru’yat punya persyaratan mampu ru’yat, silahkan ru’yah. Yang tidak mampu, ikut yang aman saja, dengerin pengumuman pemerintah ! cari amannya saja !
Sempurnakan jumlah bilangan hari puasamu, sebab apa? Puasa itu macem-macem. Ada yang puasa model bedug, depan rapet – belakangnya kosong, cuman pembukaan. Ada juga pembukaan, pertengahan dan penutupaan, ada juga yang penutupan saja – mau dapet lailatul qodar.
Allah berpesan, “walitukmilull ‘iddata” sempurnakan jumlah bilangan hari puasamu, puasa itu sebulan penuh. Setelah selesai itu, “walitukabbirulloha ‘ala ma hadaaku” hendaknya engkau agungkan, engkau bertakbir, mengagungkan Allah yang telah memberikan hidayah kepadamu, tidak ada takbiran sebelum selesai romadhon. “walitukmilull ‘iddata” itu dulu – sempurnakan jumlah bilangan hari puasamu, selesai baru “walitukabbirulloh”. Jangan lebaran masih seminggu sudah “Allohu Akbar, Alloooh…ngigo. “walitukmilull ‘iddata” sempurnakan dulu jumlah bilangan hari puasamu, ini adab – selesai “walitukabbirulloh” baru engkau bertakbir – agungkan nama tuhanmu ! kenapa? “ala ma hadaaku” yang telah memberikan petunjuk dan hidayah kepada kita semua.
Saudara, kalau bukan lantaran hidayah Allah – berat sebulan penuh nggak makan, laper melilit perut, haus mencekek tenggorokan. kalau bukan hidayah – berat melawan nafsu, kalau bukan hidayah – berat melawan setan. Bagaimana nggak berat, dia lihat kita - kita nggak lihat dia. Inikah curang musuh ini. Semata-mata karena hidayah dari Allah, intan yang paling mahal, mutiara paling berharga, tidak lain adalah hidayah.
Saudara lihat dalam sejarah, kadang-kadang anak Nabi tidak dapat hidayah, tidak terpanggil mengikuti kebenaran, Kan-an anak Nabi Nuh, betul? Kadang-kadang bapak Nabi tidak dapat hidayah, Azar bapaknya Nabi Ibrahim – Ibrahim penegak Tauhid, bapaknya produsen berhala. Kadang-kadang isteri Nabi tidak mendapat hidayah..kafir – isterinya Nabi Luth. Kadang-kadang paman Nabi tidak dapat hidayah, ingkaar, Abu Jahal, Abu Lahab, Paman Nabi Kita. Anak Nabi, bapak Nabi, Isteri Nabi, paman Nabi – hidayah tidak datang , mereka tidak terpanggil mengikuti kebenaran. Alhamdulillah kita yang ponakan Nabi aja bukan, kita diberikan hidayah, dengan bekal hidayah itu; kita masuki nuansa romadhon, berjuang melawan nafsu, membina taqwa, melatih ridho, dengan lapar melilit perut – dengan haus mencekik tenggorokan – Allohumma laka sumtu (Tuhan untuk engkau saya laksanakan ibadah ini). Oleh karena itu, jaga hidayah ini baik-baik, karena dia merupakan intan paling mahal, mutiara paling berharga dalam kehidupan kita. Diberikan kita kedudukan yang tinggi, Alhamdulillah?... Diberikan kita harta yang banyak, Alhamdulillah?...tapi itu semua belum ada artinya ketimbang yang bernama hidayah.
Maka hidayah inilah yang harus kita jaga baik-baik, hidayah inilah yang harus kita pelihara, kita bertakbir kepada Allah; mengagungkan nama Allah yang telah memberikan hidayah kepada kita. Kalau tidak lantaran hidayah berat melaksanakan ibadah puasa sebulan suntuk.
Wassalamu ‘Alaikum Wr. Wb.
Jumat, 22 April 2016
Kamis, 14 April 2016
Langganan:
Postingan (Atom)





























































